Mujiatun Sri Wahyuni Bidan Desa Piyak mengatakan jumlah warga yang dilayani pengobatan gratis dengan cara jemput bola sebanyak 415 jiwa, selain itu tim medis Puskesmas Kanor juga membuka Posko Kesehatan di salah satu rumah warga yang tidak tergenang banir yang bernama Mulyadi di RT.01 RW.01. Di Posko selama 4 hari jumlah pasien sebanyak 217 jiwa. “ Untuk siaga banjir di Desa Piyak Puskesmas Kanor menurunkan 5 tenaga medis yang terdiri dari 1 dokter dibantu 4 perawat dan bidan. Keluhan yang dialami warga kebanyakan gatal-gatal, pusing, pegal linu.
Tampilkan postingan dengan label Bojonegoro Region. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bojonegoro Region. Tampilkan semua postingan
06.55
Bojonegoro Post ~ Pemerintah Desa Piyak Kerja sama dengan Puskesmas Kanor Gelar Pengobatan Gratis Korban Bencana Banjir,Bencana banjir bulan Desember 2013 akibat luapan Bengawan Solo lewat sungai mekuris tidak menghalangi pelayanan kepada masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan pengobatan gratis kerja sama antara Pemerintah Desa Piyak dengan Puskesmas Kanor. Dengan naik dua perahu sewaan, Kepala Desa, Perangkat Desa, Bidan dan Tim Medis dari Puskesmas Kecamatan Kanor menyusuri banjir mendatangi rumah-rumah warga yang tergenang banjir memberikan bantuan berupa makanan siap saji dan air minum mineral serta pengobatan gratis.
Mujiatun Sri Wahyuni Bidan Desa Piyak mengatakan jumlah warga yang dilayani pengobatan gratis dengan cara jemput bola sebanyak 415 jiwa, selain itu tim medis Puskesmas Kanor juga membuka Posko Kesehatan di salah satu rumah warga yang tidak tergenang banir yang bernama Mulyadi di RT.01 RW.01. Di Posko selama 4 hari jumlah pasien sebanyak 217 jiwa. “ Untuk siaga banjir di Desa Piyak Puskesmas Kanor menurunkan 5 tenaga medis yang terdiri dari 1 dokter dibantu 4 perawat dan bidan. Keluhan yang dialami warga kebanyakan gatal-gatal, pusing, pegal linu.
Pengobatan Gratis Korban Bencana Banjir
Mujiatun Sri Wahyuni Bidan Desa Piyak mengatakan jumlah warga yang dilayani pengobatan gratis dengan cara jemput bola sebanyak 415 jiwa, selain itu tim medis Puskesmas Kanor juga membuka Posko Kesehatan di salah satu rumah warga yang tidak tergenang banir yang bernama Mulyadi di RT.01 RW.01. Di Posko selama 4 hari jumlah pasien sebanyak 217 jiwa. “ Untuk siaga banjir di Desa Piyak Puskesmas Kanor menurunkan 5 tenaga medis yang terdiri dari 1 dokter dibantu 4 perawat dan bidan. Keluhan yang dialami warga kebanyakan gatal-gatal, pusing, pegal linu.
Label:
Bojonegoro Region
06.52
Bojonegoro Post ~ Tempat wisata atau tempat hiburan merupakan jujukan masyarakat mulai masyarakat kecil sampai masyarakat level atas, bisa dibayangkan bagaimana seandainya subuah Desa mempunyai tempat wisata, apalagi tempat wisata yang dapat difungsikan sebagai sarana pendidikan dan olahraga, di Desa Piyak terdapat lahan kurang lebih berukuran 1600 meter persegi dengan kedalaman kurang lebih 5 meter, yang terletak dibelakang pasar Desa, suatu potensi yang luar biasa jika tempat tersebut bisa dijadikan sebagai tempat wisata ( Kolam Renang ), dampak positifnya bisa disegala bidang, Pendidikan, Olahraga, Ekonomi Masyarakat, terutama menghidupkan pasar desa, itulah cita – cita Pemerintah Desa Piyak.
Desa Piyak Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro, dengan jumlah penduduk kurang lebih 1137 jiwa, yang mayoritas penduduknya berpendidikan Sekolah Dasar, pekerjaan mayoritas sebagai petani, sekitar 20 tahun yang lalau masyarakat desa Piyak selain bertani bayak juga yang menekuni perdagangan aktifitasnya berada di Pasar Desa Piyak, sebelah selatan Balai Desa, akan tetapi saat ini para pedagang mulai meninggalkan profesi berdagangnya dikarenakan pasar Desa yang dulunya ramai didatangi pedagang tradisional dari berbagai Desa di Kecamatan Kanor kini mulai sepi, bisa juga karena banyaknya pedagang keliling, bisa juga karena kalah bersaing dengan pasar di daerah lain.
Pada tahun 2012 pasar Desa sebagian di renovasi dengan tujuan untuk meniingkatkan perekonomian masyarakat akan tetapi pada kenyataannya agan – agan itu tidak tercapai hanya sebagian kecil stand Pasar yang sudah ditempati, ramainya pasar yang tidak seperti dulu mungkin itu alasannya, Pemerintah Desa berkeinginan ingin mengembalikan ramainya pasar Desa piyak bisa kembali lagi seperti 20 Tahun yang lalu, Abdul Ghoni mengatakan Pasar Desa ini bisa ramai seperti dulu jika kita bisa memanfaatkan kolam (jumblang) yang terletak dibelakang pasar Desa tersebut, misalnya kolam (jumblang) di belakang pasar Desa Piyak yang sampai saat ini tidak terawat kita sulap menjadi tempat wisata sekolah seperti kolam renang dengan begitu otomatis pasar desa akan menjadi ramai dikunjungi banyak orang terutama anak – anak sekolah, sedikit banyak dagangan para pedagang, baik yang tradisional maupun yang pertokoan di area pasar akan dikunjungi juga, akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah kita membutuhkan dana yang relatif besar untuk pembangunan kolam reanang tersebut.
Akan tetapi jika itu bisa terwujud bukan hanya pasar Desa saja yang akan kembali ramai tetapi perekonomian masyarakat juga ikut terangkat dengan adanya kolam renang di Desa Piyak, salah satu contoh dalam pengelolaan kolam renang tentunya akan menyerap banyak tenaga kerja, lahan parkir juga bisa kita terapkan seperrti dipasar – pasar lain.
Sumber : : http://kimbeno.blogspot.com/2014/06/potensi-desa-yang-belum-tersentuh.html
Wisata Desa Yang belum Pernah Tersentuh
Desa Piyak Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro, dengan jumlah penduduk kurang lebih 1137 jiwa, yang mayoritas penduduknya berpendidikan Sekolah Dasar, pekerjaan mayoritas sebagai petani, sekitar 20 tahun yang lalau masyarakat desa Piyak selain bertani bayak juga yang menekuni perdagangan aktifitasnya berada di Pasar Desa Piyak, sebelah selatan Balai Desa, akan tetapi saat ini para pedagang mulai meninggalkan profesi berdagangnya dikarenakan pasar Desa yang dulunya ramai didatangi pedagang tradisional dari berbagai Desa di Kecamatan Kanor kini mulai sepi, bisa juga karena banyaknya pedagang keliling, bisa juga karena kalah bersaing dengan pasar di daerah lain.
Pada tahun 2012 pasar Desa sebagian di renovasi dengan tujuan untuk meniingkatkan perekonomian masyarakat akan tetapi pada kenyataannya agan – agan itu tidak tercapai hanya sebagian kecil stand Pasar yang sudah ditempati, ramainya pasar yang tidak seperti dulu mungkin itu alasannya, Pemerintah Desa berkeinginan ingin mengembalikan ramainya pasar Desa piyak bisa kembali lagi seperti 20 Tahun yang lalu, Abdul Ghoni mengatakan Pasar Desa ini bisa ramai seperti dulu jika kita bisa memanfaatkan kolam (jumblang) yang terletak dibelakang pasar Desa tersebut, misalnya kolam (jumblang) di belakang pasar Desa Piyak yang sampai saat ini tidak terawat kita sulap menjadi tempat wisata sekolah seperti kolam renang dengan begitu otomatis pasar desa akan menjadi ramai dikunjungi banyak orang terutama anak – anak sekolah, sedikit banyak dagangan para pedagang, baik yang tradisional maupun yang pertokoan di area pasar akan dikunjungi juga, akan tetapi untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah kita membutuhkan dana yang relatif besar untuk pembangunan kolam reanang tersebut.
Akan tetapi jika itu bisa terwujud bukan hanya pasar Desa saja yang akan kembali ramai tetapi perekonomian masyarakat juga ikut terangkat dengan adanya kolam renang di Desa Piyak, salah satu contoh dalam pengelolaan kolam renang tentunya akan menyerap banyak tenaga kerja, lahan parkir juga bisa kita terapkan seperrti dipasar – pasar lain.
Sumber : : http://kimbeno.blogspot.com/2014/06/potensi-desa-yang-belum-tersentuh.html
Label:
Bojonegoro Region
06.49
Bojonegoro Post ~ Setelah berhasil menjadi Juara I tingkat jatim dan mewakili Propinsi Jatim ke tingkat Nasional, Perpustakaan Desa (Perpusdes) Sidobandung, Kecamatan Balen, dikabarkan masuk sepuluh besar nasional.
“Informasi yang saya terima memang begitu. Tapi surat resminya belum saya terima,” kata Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Umum Daerah Bojonegoro, Slamet Taufik, ketika bertandang ke Bagian Humas dan Protokoler Pemkab, Senin (12/7).
Ditingkat nasional ini Perpusdes Sidobandung harus bersaing dengan Perpusdes dari beberapa propinsi di Indonesia. Penilaian yang dilakukan meliputi beberapa aspek diantaranya sarana prasarana, struktur organisasi, administrasi, program jangka menengah dan panjang, dan koleksi buku.
“Juga manfaat perpusdes bagi masyarakat dalam mengemplementasikan hasil bacaannya dengan kegiatan sehari-hari,” papar Taufik.
Perlu diketahui, perpusdes Sidobandung ini memiliki lokasi strtegis. Yakni berada satu komplek dengan kantor pemerintah desa, puskesmas dan taman pendidikan anak usia dini (PAUD). Sehingga keberadaan Perpusdes saling bersinergi dengan kegiatan dan lembaga yang ada di desa.
Tak hanya itu, Perpusdes Sidobandung, sekarang ini juga telah memiliki koleksi buku sekitar 7.200 buah yang diantaranya merupakan bantuan dari pihak ke tiga. Banyak masyarakat setempat yang memanfaatkan perpusdes ini untuk mencari refrensi tentang bidang pertanian maupun peternakan kemudian mengemplementasikannya. (dwi/kominfo)
Sumber : : http://kimbahanawarta.blogspot.com/2014/06/perpusdes-sidobandung-masuk-10-besar.html
Perpusdes Sidobandung Masuk 10 besar Tingkat Nasional
“Informasi yang saya terima memang begitu. Tapi surat resminya belum saya terima,” kata Kepala Kantor Arsip dan Perpustakaan Umum Daerah Bojonegoro, Slamet Taufik, ketika bertandang ke Bagian Humas dan Protokoler Pemkab, Senin (12/7).
Ditingkat nasional ini Perpusdes Sidobandung harus bersaing dengan Perpusdes dari beberapa propinsi di Indonesia. Penilaian yang dilakukan meliputi beberapa aspek diantaranya sarana prasarana, struktur organisasi, administrasi, program jangka menengah dan panjang, dan koleksi buku.
“Juga manfaat perpusdes bagi masyarakat dalam mengemplementasikan hasil bacaannya dengan kegiatan sehari-hari,” papar Taufik.
Perlu diketahui, perpusdes Sidobandung ini memiliki lokasi strtegis. Yakni berada satu komplek dengan kantor pemerintah desa, puskesmas dan taman pendidikan anak usia dini (PAUD). Sehingga keberadaan Perpusdes saling bersinergi dengan kegiatan dan lembaga yang ada di desa.
Tak hanya itu, Perpusdes Sidobandung, sekarang ini juga telah memiliki koleksi buku sekitar 7.200 buah yang diantaranya merupakan bantuan dari pihak ke tiga. Banyak masyarakat setempat yang memanfaatkan perpusdes ini untuk mencari refrensi tentang bidang pertanian maupun peternakan kemudian mengemplementasikannya. (dwi/kominfo)
Sumber : : http://kimbahanawarta.blogspot.com/2014/06/perpusdes-sidobandung-masuk-10-besar.html
Label:
Bojonegoro Region
06.45
Bojonegoro Post ~ Pemandangan rutin di aliran Bengawan Solo yang melintasi Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur adalah jembatan dadakan yang terbuat dari bambu. Jembatan-jembatan itu dipasang lantaran perahu penyebarangan tak lagi dapat beroperasi, menyusul dangkalnya sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut saat musim kemarau tiba.
“Tiap kemarau kita pasang jembatan bambu, dikerjakan bersama dengan penambang lain,” ujar Siswanto, penambang perahu penyebarangan. Hal ini dilakukan untuk menggantikan jasa penyebarangan yang biasa menggunakan perahu.
Agar tetap dapat melayani warga untuk menyebarangi Bengawan Solo, di sepanjang sungai terdapat belasan jembatan serupa. Menurut Siswanto, tarif yang diberlakukan adalah sama persis dengan tarif penyebarangan menggunakan perahu.
Biasanya warga yang menyeberang ditarik Rp1.000,- untuk sepeda motor dan Rp500,- untuk sepeda ontel atau pejalan kaki. “Tarifnya tetap sama, karena saat membuatnya patungan dengan penambang lain, hasilnya dibagi rata” imbuhnya.
Jembatan-jembatan dadakan itu tersebar di beberapa titik, diantaranya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota Bojonegoro. Di titik tambangan yang menghubungkan Kelurahan Kauman dan Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk ini telah terdapat jembatan bambu sepanjang kurang lebih 50 meter. Jembatan ini menjadi pengganti perahu yang biasa dipakai menyeberang oleh para warga.
sumber : kanalbojonegoro.com
Hanya Dengan Jembatan Bambu Warga Menyebrang Bengawan Solo
“Tiap kemarau kita pasang jembatan bambu, dikerjakan bersama dengan penambang lain,” ujar Siswanto, penambang perahu penyebarangan. Hal ini dilakukan untuk menggantikan jasa penyebarangan yang biasa menggunakan perahu.
Agar tetap dapat melayani warga untuk menyebarangi Bengawan Solo, di sepanjang sungai terdapat belasan jembatan serupa. Menurut Siswanto, tarif yang diberlakukan adalah sama persis dengan tarif penyebarangan menggunakan perahu.
Biasanya warga yang menyeberang ditarik Rp1.000,- untuk sepeda motor dan Rp500,- untuk sepeda ontel atau pejalan kaki. “Tarifnya tetap sama, karena saat membuatnya patungan dengan penambang lain, hasilnya dibagi rata” imbuhnya.
Jembatan-jembatan dadakan itu tersebar di beberapa titik, diantaranya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota Bojonegoro. Di titik tambangan yang menghubungkan Kelurahan Kauman dan Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk ini telah terdapat jembatan bambu sepanjang kurang lebih 50 meter. Jembatan ini menjadi pengganti perahu yang biasa dipakai menyeberang oleh para warga.
sumber : kanalbojonegoro.com
Label:
Bojonegoro Region
23.56
Bojonegoro Post ~ Nahas dialami Fathur Rohman, 47 tahun, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) asal Desa Bakung, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, yang meninggal dunia akibat tersengat arus listrik. Korban diduga tewas setelahtersengat listrik dari genset untuk menjebak tikus disawahnya, Jumat malam, 6 Juni 2014.
Kapolsek Kanor, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Mashadi, membenarkan kejadian tersebut. Korban tersengat arus listrik dari genset miliknya yang digunakan untuk membunuh tikus yang memakan tanaman padinya. Korban tersengat listrik sekitar pukul 18.00 Wib di sawahnya yang berada di Desa Simorejo Kecamatan Kanor, Bojonegoro. “Dugaannya korban tersengat listrik dari mesin genset,” ujar AKP Mashadi, Sabtu 7 Juni 2014.
Menurut keterangan beberap saksi, korban ini setiap sore berangkat kesawah untuk menyalakan gensetnya. Kebetulan sore kemarin gensetnya sedang rusak dan diperbaiki oleh adiknya. “Saat membantu memperbaiki, tiba-tiba korban tersengat aliran listrik,” jelasnya.
Pihaknya menambahkan, melihat kakaknya tersengat listrik, seketika adik korban bernama Rufi’i, 35 tahun, langsung menolong korban. Saat ditolong, korban diketahui masih bernyawa. Selanjutnya korban dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Kecamatan Sumberrejo. Namun disaat perjalanan korban meninggal dunia.
Jasad PNS di Kecamatan Kanor dengan tinggi 175 Cm dan berat 75 Kg itu kemudian dibawa pihak kepolisian ke Puskesmas Kecamatan Kanor guna pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan, ditangan kanan korban terdapat luka bakar sekira 5 Cm dan kedalaman 0,5 Cm. “Hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, korban murni meninggal dunia akibat tersengat arus listrik dari genset miliknya sendiri,” pungkas Kapolsek…
Seorang PNS Tewas Tersengat Aliran Listrik
Kapolsek Kanor, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Mashadi, membenarkan kejadian tersebut. Korban tersengat arus listrik dari genset miliknya yang digunakan untuk membunuh tikus yang memakan tanaman padinya. Korban tersengat listrik sekitar pukul 18.00 Wib di sawahnya yang berada di Desa Simorejo Kecamatan Kanor, Bojonegoro. “Dugaannya korban tersengat listrik dari mesin genset,” ujar AKP Mashadi, Sabtu 7 Juni 2014.
Menurut keterangan beberap saksi, korban ini setiap sore berangkat kesawah untuk menyalakan gensetnya. Kebetulan sore kemarin gensetnya sedang rusak dan diperbaiki oleh adiknya. “Saat membantu memperbaiki, tiba-tiba korban tersengat aliran listrik,” jelasnya.
Pihaknya menambahkan, melihat kakaknya tersengat listrik, seketika adik korban bernama Rufi’i, 35 tahun, langsung menolong korban. Saat ditolong, korban diketahui masih bernyawa. Selanjutnya korban dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Kecamatan Sumberrejo. Namun disaat perjalanan korban meninggal dunia.
Jasad PNS di Kecamatan Kanor dengan tinggi 175 Cm dan berat 75 Kg itu kemudian dibawa pihak kepolisian ke Puskesmas Kecamatan Kanor guna pemeriksaan lebih lanjut. Dari hasil pemeriksaan, ditangan kanan korban terdapat luka bakar sekira 5 Cm dan kedalaman 0,5 Cm. “Hasil pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, korban murni meninggal dunia akibat tersengat arus listrik dari genset miliknya sendiri,” pungkas Kapolsek…
Sumber : halobojonegoro.com
Label:
Bojonegoro Region
23.51
Bojonegoro Post ~ Petani di sekitar ladang minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro mulai panen padi. Hasil panen padi pertama pada tahun ini dapat membuat petani bernafas lega, karena hasil dirasakan cukup berhasil sebab tidak terserang hama.
Ini seperti yang dirasakan petani di Desa Bonorejo dan Mojodelik, Kecamatan Gayam. Tanaman padi yang mulai panen ini berada dekat dengan lokasi proyek minyak Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro. Sebagian petani mulai menebas tanaman padi yang sudah saatnya panen.
Menurut Sutar, 45 tahun, petani di Desa Bonorejo, tanaman padinya sudah berumur 90 hari dan sudah saatnya dipanen. Tanaman padi seluas seperempat hektare itu menghasilkan gabah sebanyak 14 kuintal. “Hasilnya bagus karena tidak terserang hama wereng atau potong leher,” ujar Sutar sambil menebas batang padi, Kamis 13 Maret 2014.
Meski hasil panen padi petani cukup berhasil, namun harga jual gabah saat ini dirasa kurang menguntungkan. Yakni hanya sekitar Rp3.200 per kilogramnya. Padahal sebelumnya harga jual gabah basah mencapai Rp3.400 per kilogram. “Kalau musim panen kan harga gabah cenderung turun,” ujarnya.
Tidak hanya Sutar, petani lainnya di Desa Bonorejo yakni Asih, 40 tahun, juga sudah memanen padi. Ia mendapatkan hasil gabah sebanyak 14 kuintal dari lahan sawah seluas seperempat hektare. “Hasil panen padi pertama ini cukup bagus,” ujarnya sambil menjemur padi di halaman rumahnya.
Asih menuturkan, gabah hasil panen pertama biasanya memang disimpan untuk kebutuhan sendiri. Namun, gabah hasil panen yang kedua biasanya dijual. “Setelah panen pertama, saya langsung tanam lagi benih padi di sawah,” ujarnya.
Warga di sekitar ladang migas Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro dulu sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani. Selain mengandalkan hasil pertanian, mereka juga rata-rata beternak sapi dan kambing di sekitar rumahnya. Namun, seiring adanya industri migas yang menyerbu perkampungan ini, masyarakat mulai berubah dan bergeser menjadi pekerja di proyek migas. Lahan pertanian semakin menyempit dan berubah menjadi bangunan proyek migas. Lahan pertanian di Desa Mojodelik yang dikenal sebagai desa penghasil minyak Banyu Urip misalnya kini tinggal sekitar 300 hektare…
Petani Sekitar Sekitar Ladang Migas Kini Mulai Panen
Ini seperti yang dirasakan petani di Desa Bonorejo dan Mojodelik, Kecamatan Gayam. Tanaman padi yang mulai panen ini berada dekat dengan lokasi proyek minyak Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro. Sebagian petani mulai menebas tanaman padi yang sudah saatnya panen.
Menurut Sutar, 45 tahun, petani di Desa Bonorejo, tanaman padinya sudah berumur 90 hari dan sudah saatnya dipanen. Tanaman padi seluas seperempat hektare itu menghasilkan gabah sebanyak 14 kuintal. “Hasilnya bagus karena tidak terserang hama wereng atau potong leher,” ujar Sutar sambil menebas batang padi, Kamis 13 Maret 2014.
Meski hasil panen padi petani cukup berhasil, namun harga jual gabah saat ini dirasa kurang menguntungkan. Yakni hanya sekitar Rp3.200 per kilogramnya. Padahal sebelumnya harga jual gabah basah mencapai Rp3.400 per kilogram. “Kalau musim panen kan harga gabah cenderung turun,” ujarnya.
Tidak hanya Sutar, petani lainnya di Desa Bonorejo yakni Asih, 40 tahun, juga sudah memanen padi. Ia mendapatkan hasil gabah sebanyak 14 kuintal dari lahan sawah seluas seperempat hektare. “Hasil panen padi pertama ini cukup bagus,” ujarnya sambil menjemur padi di halaman rumahnya.
Asih menuturkan, gabah hasil panen pertama biasanya memang disimpan untuk kebutuhan sendiri. Namun, gabah hasil panen yang kedua biasanya dijual. “Setelah panen pertama, saya langsung tanam lagi benih padi di sawah,” ujarnya.
Warga di sekitar ladang migas Banyu Urip, Blok Cepu di Bojonegoro dulu sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani. Selain mengandalkan hasil pertanian, mereka juga rata-rata beternak sapi dan kambing di sekitar rumahnya. Namun, seiring adanya industri migas yang menyerbu perkampungan ini, masyarakat mulai berubah dan bergeser menjadi pekerja di proyek migas. Lahan pertanian semakin menyempit dan berubah menjadi bangunan proyek migas. Lahan pertanian di Desa Mojodelik yang dikenal sebagai desa penghasil minyak Banyu Urip misalnya kini tinggal sekitar 300 hektare…
Sumber: halobojonegoro.com
Label:
Bojonegoro Region




